Selasa, 10 Desember 2013


 SISTEM INFORMASI MENAJEMEN PT. SMARTFREN  TBK

Pembahasan dan Analisa Manajemen


 
Penjelasan dalam bagian ini harus dibaca bersama dengan laporan keuangan konsolidasian PT Mobile-8 Telecom, Tbk. dan anak Perseroan serta catatan terkait untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2010 dan
2009.
Catatan 48 tentang Peristiwa Setelah Tanggal Neraca menjelaskan Penawaran Umum Terbatas I berhasil mengatasi masalah defisiensi modal. Dengan demikian, Persorean dapat memusatkan perhatian untuk
memenangkan persaingan di industri telekomunikasi Indonesia.

Segmen Usaha

Usaha yang dikelola oleh Perseroan ialah jasa selular CDMA dan jasa jaringan telekomunikasi. Segmen usahanya bersifat tunggal.
 Segmen geografisnya terdiri atas wilayah Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi), Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Kalimantan.
Dari total jumlah Pendapatan usaha sebesar Rp 392,8 miliar pada tahun 2010, segmen Jabotabek menyumbang Pendapatan terbesar, yaitu Rp 164,1 miliar atau sekitar 41,8%. Pendapatan di segmen tersebut naik sebesar 9,4% tahun 2010 dibandingkan tahun 2009. Sedangkan segmen Kalimantan memberikan pendapatan terkecil, yakni Rp 2,7 miliar.

Pendapatan Usaha

Jasa telekomunikasi CDMA merupakan sumber utama pendapatan dan terdiri dari pendapatan layanan jasa telekomunikasi berupa (i) Percakapan, (ii) Layanan Pesan Singkat (SMS), (iii) Data, (iv) Abonemen dan (v) Lain-lain.
Perseroan juga memperoleh pendapatan dari interkoneksi domestik dan internasional yang diterima dari penyelenggara telekomunikasi lainnya.
Jumlah Pendapatan Usaha kami disajikan dengan mengurangi Beban Interkoneksi dan Potongan Harga.

Pendapatan Jasa Telekomunikasi

Pada 2010, pendapatan Jasa Telekomunikasi menurun 26,5% dari Rp 464,7 miliar pada 2009 menjadi Rp 341,5 miliar pada 2010. Penurunan tersebut terkait utamanya dengan penurunan ARPU (average revenue per user) akibat Persaingan yang sangat ketat antar operator telekomunikasi di Indonesia.

Pendapatan Jasa Interkoneksi
Pada tahun 2010, Pendapatan Jasa Interkoneksi menurun 29,4% dari Rp 72,7 miliar pada 2009 menjadi Rp 51,3 miliar pada 2010. Penurunan ini terutama disebabkan penurunan pendapatan dari Jasa Interkoneksi Domestik, sebagai akibat dari penurunan tarif interkoneksi dan penurunan lalu lintas panggilan masuk.

Beban Interkoneksi dan Potongan Harga

Secara persentase, Beban Interkoneksi dan Potongan Harga turun dari 31,3% pada 2009 menjadi 30,6% pada 2010. Penurunan ini terutama merupakan akibat turunnya lalu lintas panggilan keluar (outgoing call) dibandingkan dengan lalu lintas panggilan masuk (incoming call).

Pendapatan Usaha Bersih

Pendapatan Usaha Bersih Perseroan turun 26,1% menjadi Rp 272,6 miliar pada 2010 dibandingkan Rp 368,9 miliar  pada  2009.  Penurunan tersebut diakibatkan oleh penurunan pendapatan yang signifikan dari Percakapan, SMS, Data dan Jasa Interkoneksi Domestik.

Beban Usaha

Beban Usaha kami terdiri dari (i) Penyusutan dan Amortisasi , (ii)  Operasi ,  Pemeliharaan dan  Jasa Telekomunikasi, (iii) Penjualan dan Pemasaran, (iv) Karyawan dan (v) Umum dan Administrasi.

Beban Penyusutan dan Amortisasi

Beban Penyusutan dan Amortisasi meningkat 12,2% dari Rp 318,4 miliar pada 2009 menjadi Rp 357,1 miliar pada 2010. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penambahan aset terutama dalam bentuk infrastruktur telekomunikasi dan aset pembiayaan.

Beban Operasi, Pemeliharaan, dan Jasa Telekomunikasi

Pada tahun 2010, Beban Operasi, Pemeliharaan dan Jasa Telekomunikasi turun 9.2% dari Rp 518,2 miliar pada 2009 menjadi Rp 470,6 miliar pada 2010. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya beban interkoneksi dari Rp 135,5 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 103,9 miliar.

Beban Penjualan dan Pemasaran

Beban Penjualan dan Pemasaran kami meningkat 48,4% dari Rp 150,5 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 223,4 miliar pada tahun 2010. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh naiknya biaya iklan dan promosi sebesar 34,2% dari Rp 121,4 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 162,9 miliar di tahun 2010. Selain itu terjadi kenaikan dalam beban kartu RUIM dan biaya voucher sebesar 177,4% dari Rp 16,4 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 45,5 miliar di tahun 2010.

Beban Karyawan

Beban Karyawan kami naik tipis 4,3% dari Rp 135 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 140,8 miliar pada tahun 2010. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan gaji dan tunjangan karyawan dari Rp 105,8 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 107,8 miliar di tahun 2010.

Beban Umum dan Administrasi

Beban Umum dan Administrasi kami menurun 10,4% dari Rp 58 miliar pada 2009 menjadi Rp 52 miliar pada 2010. Penurunan ini disebabkan terutama oleh turunnya beban jamuan dan sumbangan dari Rp 6,6 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 250 juta di tahun 2010.

Jumlah Beban Usaha

Jumlah Beban Usaha kami naik 5,4% dari Rp 1.180 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 1.243,9 miliar pada tahun 2010.

Rugi Usaha

Rugi Usaha mengalami kenaikan dari Rp 675,5 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 867,4 miliar pada tahun 2010.

Penghasilan (Beban) Lain-Lain Bersih

Perseroan membukukan Beban Lain-Lain Bersih sebesar Rp 496,4 miliar pada tahun 2010. Pada tahun 2009, Perseroan membukukan Keuntungan Lain-Lain Bersih Rp 835 juta. Perubahan yang sangat signifikan ini terutama disebabkan adanya kerugian bersih transaksi
\derivativ sebesar 29,5 milyar dibandingkan keuntungan bersih transaksi derivative sebesar Rp 117,9 miliar pada tahun 2009 dan turunnya keuntungan kurs mata uang asing  - bersih dari Rp 241,8 miliar pada tahun 2009 menjadi 65,8 pada tahun 2010.

Rugi Sebelum Pajak

Sebagai akibat dari hal-hal tersebut di atas, Perseroan mengalami kenaikan atas Rugi Sebelum Pajak dari Rp 674,7 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 1.363,7 miliar pada tahun 2010.

Beban Pajak

Perseroan mencatat penurunan Beban Pajak dari Rp 49,7 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 38 miliar di tahun 2010.

Rugi Bersih

Sebagai akibat dari hal-hal tersebut di atas, Perseroan mengalami kenaikan Rugi Bersih dari Rp 724,4 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 1.401,8 miliar pada tahun 2010.

Posisi Keuangan
            Tabel berikut menunjukkan ringkasan posisi keuangan Perseroan pada 31 Desember 2010 dibandingkan dengan 31 Desember 2009.

Aset Lancar

Pada 31 Desember 2010, Aktiva Lancar meningkat tipis
1% menjadi Rp 446,5 miliar.

Aset Tidak Lancar

Pada 31 Desember 2010, Aset Tidak Lancar tercatat sebesar Rp 4.037 miliar, turun 6.4% dibandingkan tahun 2009. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya hamper semua akun aset tidak lancar, kecuali akun biaya dibayar di muka jangka panjang yang mengalami kenaikan dari Rp 98,1 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 115,6 miliar.

Kewajiban Lancar

Pada 31 Desember 2010, Kewajiban Lancar tercatatsebesar Rp 2.075,1 miliar, naik 63,5% dari Rp 1.269,2 miliar tahun 2009. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan dari Hutang Jangka Pendek, yang menjadi Rp 1.028 miliar dari Rp 80 miliar. Hutang usaha pihak ketiga menjadi Rp 443,3 miliar dari Rp 683,9 miliar, terutama akibat konversi hutang menjadi modal saham.

Kewajiban Tidak Lancar

Pada 31 Desember 2010, Kewajiban Tidak Lancar tercatat sebesar Rp 2.527,9 miliar, menurun 6,2% dari Rp 2.695,2 miliar tahun 2009. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan hutang sewa pembiayaan menjadi Rp 948,6 miliar dari Rp 1.125,7 miliar tahun 2009.

Ekuitas

Pada 31 Desember  2010, Perseroan mencatat defisiensi modal sebesar Rp 119,5 miliar dibandingkan dengan ekuitas tercatat sebesar Rp 792,5 miliar pada tahun 2009.
           
Likuiditas dan Sumber Modal

Penggunaan kas Perseroan yang utama adalah untuk keperluan operasional yang meliputi pembayaran hutang kepada para pemasok, pembayaran berbagai beban bunga dan keuangan, serta keperluan ekspansi jaringan. Sedangkan penerimaan kas selama tahun 2010 sebagian besar diperoleh dari hutang jangka pendek disertai oleh penerimaan dari pelanggan, pencairan investasi jangka pendek dan penerimaan restitusi pajak.

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Peningkatan yang signifikan ini terutama disebabkan oleh (i) penurunan penerimaan kas dari pelanggan dari Rp 466,5 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 366,7 miliar di tahun 2010, (ii) peningkatan pembayaran kepada pemasok dari Rp 411,6 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 1.062,5 miliar, dan (iii) peningkatan pembayaran beban bunga dan keuangan sebesar Rp 89,7 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 234,2 miliar.

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Kenaikan signifikan atas Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Pendanaan pada tahun 2010 disebabkan oleh peningkatan penerimaan dari hutang jangka pendek sebesar Rp 948 miliar dibandingkan Rp 80 miliar pada tahun 2009.

Ikatan Material Terkait Investasi Barang Modal

Pada tahun 2010 Perseroan tidak mengadakan ikatan material yang terkait investasi barang modal dalam mata uang selain Rupiah.

Peristiwa Setelah Tanggal Laporan Akuntan Publik

Akuntan Publik yang memeriksa laporan keuangan konsolidasi PT Mobile-8 Telecom, Tbk. 2010 menyampaikan laporannya pada tanggal 22 Maret 2011. Antara tanggal tersebut hingga diterbitkannya Laporan Tahunan PT Mobile-8 Telecom, Tbk. 2010, Perseroan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 23 Maret 2011. Rapat tersebut layak dicatat sebagai peristiwa penting setelah tanggal Laporan Akuntan Publik mengingat beberapa keputusan yang dihasilkan, antara lain: Pertama, mengubah nama Perseroan dari PT Mobile-8 Telecom, Tbk. menjadi PT Smartfren Telecom, Tbk. Dan karenanya mengubah pasal 1 Anggaran Dasar Perseroan. Kedua, Menyetujui pengunduran diri atau memberhentikan dengan hormat seluruh anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan dan seketika itu juga mengangkat anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang baru. Sehingga terhitung sejak ditutupnya Rapat tersebut sampai dengan ditutupnya Rapat Umum Pemegang
Saham Tahunan yang kelima setelah pengangkatan tersebut susunan Dewan Komisaris  dan Direksi Perseroan adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Presiden Komisaris: Bapak Henry Cratein Suryanaga
Wakil Presiden Komisaris/Independen:
Bapak Sarwono Kusumaatmadja
Komisaris/Independen: Bapak Reynold M. Batubara
Komisaris: Bapak Handra Karnadi

Direksi

Presiden Direktur: Bapak Rodolfo Pantoja
Direktur: Bapak Merza Fachys
Direktur: Bapak Antony Susilo
Direktur: Bapak Marco Paul Iwan Sumampouw
Direktur: Bapak Yopie Widjaya
Direktur: Bapak Anthony Chandra Kartawiria

Prospek Usaha
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010, Perseroan mengalami rugi usaha sebesar Rp 867,4 miliar dan rugi bersih sebesar Rp 1,4 triliun. Pada tanggal 31 Desember 2010, akumulasi defisit Perseroan tercatat sebesar Rp 4 triliun. Perseroan dan anak Perseroan juga memiliki
jumlah kewajiban yang signifikan. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Perseroan telah dan akan tetap fokus mengambil langkah-langkah
sebagai berikut:

1. Melanjutkan usaha-usaha restrukturisasi keuangan,
termasuk:

a.Menawarkan kepada para pemasok Perseroan untuk mengkonversi tagihan mereka ke Perseroan dengan  saham perseroan.  Pada tangga l  31 Desember 2010, tagihan pemasok yang telah dikonversi menjadi saham Perseroan senilaimRp 494 miliar.
b.Menawarkan kepada para pemegang Obligasi Rupiah 1 untuk mengkonversi Obligasi miliknya ndengan saham Perseroan dan menurunkan tingkat bunganya. Pada tanggal 31 Desember 2010, Obligasi
yang telah dikonversikan menjadi saham Perseroan senilai Rp 68,5 miliar.
c. Secara aktif melakukan negoisasi dengan pemegang Guaranteed Senior Notes anak perseroan sebesar US$ 100 juta untuk menyetujui usulan restrukturisasi.
d.Melakukan pembiayaan kembali pinjaman jangka pendek milik Perseroan dengan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi yang bersifat jangka panjang untuk memperbaiki modal kerja Perseroan. Pada tanggal 11 Januari 2011, pinjaman jangka pendek senilai Rp 700 miliar telah berhasil dibiayai kembali dengan penerbitan Obligasi Wajib Konversi.
e.Memperkuat struktur modal Perseroan melalui penerbitan saham dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) melalui Penawaran
Umum Terbatas I (PUT I) senilai Rp 3,78 triliun, yang prosesnya telah selesai pada tanggal 18 Januari 2011.

2. Melakukan akuisisi PT Smartfren Telecom, Tbk. Untuk mencapai sinergi operasional sebagai berikut:

a.Mempercepat pengembangan infrastruktur jaringan mencapai skala nasional dengan memperluas jangkauan dan kapasitas jaringan
secara bersama.
b.Melanjutkan kerjasama aktivitas pemasaran dan distribusi bersama untuk semakin memperkuat merk “Smartfren” di pasar.
c. Efisiensi pada biaya operasional. Langkah-langkah ini didukung oleh kecukupan modal yang meningkat setelah PUT I yang berhasil dilaksanakan pada 11 Januari 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar