DEFINISI E-COMMERCE
E-commerce (electronic commerce) merupakan istilah yang digunakan oleh perusahaan untuk menjual dan membeli sebuah produk secara online. E-commerce didefinisikan dari beberapa perspektif (Kalakota dan Whinston, 1997) yaitu berdasarkan komunikasi, proses bisnis, layanan, dan online.
Definisi e-commerce berdasarkan beberapa prespektif yang telah disebutkan yaitu :
1. Perspektif Komunikasi (Communications)
Menurut perspektif ini, e-commerce merupakan pengiriman informasi, produk/jasa, dan pembayaran melalui lini telepon, jaringan komputer atau sarana elektronik lainnya.
2. Perspektif Proses bisnis (Business)
Menurut prespektif ini, e-commerce merupakan aplikasi teknologi menuju otomatisasi transaksi dan aliran kerja perusahaan (work flow).
3. Perspektif layanan (Service)
Menurut perspektif ini, e-commerce merupakan satu alat yang memenuhi keinginan perusahaan, konsumen, dan manajemen dalam memangkas service cost ketika meningkatkan mutu barang dan ketepatan pelayanan.
4. Perspektif Online (Online)
Menurut perspektif ini, e-commerce berkaitan dengan kapasitas jual beli produk dan informasi di internet dan jasa online lainnya.
Secara umum O’Brien (2005) menjelaskan bahwa e-commerce mengubah bentuk persaingan, kecepatan bertindak, dan perampingan interaksi, produk dan pembayaran dari pelanggan ke perusahaan dan dari perusahaan ke pemasok. Sedangkan Anneahira.com memberikan pengertian bahwa e-commerce merupakan penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.
Dalam perkembangannya, e-commerce digunakan tidak hanya sekedar untuk membeli dan menjual suatu produk tetapi e-commerce meliputi seluruh proses pada : pengembangan, pemasaran, penjualan, pengiriman, pelayanan, dan pembayaran untuk berbagai produk dan jasa yang diperjual belikan di pasar global dengan dukungan dari jaringan para mitra bisnisnya di seluruh dunia. Beberapa perusahaan terkenal yang merupakan perusahaan e-commerce seperti : eBay, Yahoo, Amazon.com, Google, Paypal, Wal-Mart, dan lain sebagainya.
2. KATEGORI DAN TREND E-COMMERCE
Setidaknya terdapat tiga kategori utama e-commerce yang ada di dunia bisnis, yaitu e-commerce Business-to-Consumer (B2C), e-commerce Business-to-Business (B2B), dan e-commerce Consumer-to-Consumer(C2C) serta ditambah dengan e-commerce Businessto-Government (B2G).
1. E-commerce Business-to-Consumer (B2C)
Perusahaan e-commerce yang masuk kategori B2C ini memasarkan produk dan jasanya langsung dengan customer (retail) seperti pembelian di Amazon.com yang merupakan toko buku virtual yang menjual buku melalui web sitenya. Perusahaan yang menggunakan bentuk e-commerce B2C ini harus mengembangkan situs web yang menarik untuk para pelanggannya misalnya dengan tersedianya pajangan virtual dan katalog multimedia, proses pesanan yang interaktif, dan sistem pembayaran yang aman. Karakteristik pada e-commerce B2C ini adalah terbuka untuk umum karena informasi disebarkan untuk umum dan servis yang diberikan bersifat umum juga (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai.
2. E-commerce Business-to-Business (B2B)
Bentuk e-commerce B2B ini menggambarkan sebuah pasar e-business yang terjadi antara dua perusahaan/organisasi seperti Wal-Mart dan Warner-Lambert. Karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan e-commerce B2B ini biasanya karena trading partner yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan
(relationship) yang cukup lama sehingga sudah sama-sama memiliki kepercayaan.
3. E-commerce Consumer-to-Consumer (C2C)
Kategori e-commerce C2C ini menggambarkan customer melakukan penjualan langsung kepada konsumen lainnya seperti e-Bay yang merupakan tempat lelang online, dimana para pelanggan dan juga perusahaan saling membeli dan menjual ke satu sama lainnya melalui proses lelang secara online. Contoh bentuk e-commerce C2C yang lain seperti : iklan personal elektronik suatu produk atau jasa yang digunakan untuk menjual ataupun membeli di situs koran elektronik, portal ecommerce pelanggan,atau situs web personal.
3. TREND APLIKASI E-COMMERCE
E-commerce telah mengubah cara bagaimana perusahaan melakukan bisnisnya baik dalam lingkup internal maupun dengan lingkungan eksternalnya seperti dengan para pelanggan, pemasok, dan mitra bisnis lainnya. Trend dari aplikasi e-commerce di banyak perusahaan telah banyak bergeser sejalan dengan semakin banyak pengalaman yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan e-commerce selama ini.
Trend aplikasi e-commerce di beberapa bentuk kategori bisnis e-commerce adalah sebagai berikut :
1. Pada kategori e-commerce B2C, dimana perusahaan memasarkan produk dan jasanya langsung kepada customer (retail) melalui web, telah berpindah dari yang hanya menawarkan informasi multimedia di situs web perusahaan (brochureware) menjadi penawaran produk dan jasa melalui katalog elektronik di web dan bahkan sampai pada terjadinya transaksi penjualan secara online. Trend aplikasi ecommerce
B2C untuk jangka panjang telah mengalami perubahan dari pajangan toko web sederhana menjadi sebuah situs web berkemampuan pemasaran interaktif yang mampu memberikan pengalaman unik dalam berbelanja di web bagi para pelanggannya, selanjutnya menuju toko web yang memiliki layanan penuh atau terintegrasi untuk mendukung pengalaman belanja pelanggan, kemudian berkembang menuju model penjualan web mandiri sebagai tempat para pelanggan dalam mengkonfigurasikan dan menyesuaikan berbagai produk dan jasa yang mereka inginkan, kemudian dikembangkan pula portal web ritel B2C yang luas, dan pada akhirnya dimungkinkan semua aktivitas e-commerce dalam B2C akan dijalankan sepenuhnya melalui e-business.
2. Pada kategori e-commerce B2B, dimana menggambarkan sebuah pasar e-business yang terjadi antara dua perusahaan telah berpindah cepat dari layanan mandiri di web ke kemampuan konfigurasi serta penyesuaian dan ekstranet yang menghubungkan para mitra bisnisnya. Pada perkembangannya e-commerce B2B juga memiliki kecenderungan untuk menggunakan portal e-commerce B2B yang menyediakan berbagai katalog, proses jual beli, dan pasar lelang untuk para pelanggan dari bidang bisnis dalam atau lintas industri. Pada akhirnya dimungkinkan pula e-commerce dalam B2C ini akan dijalankan sepenuhnya melalui e-business.
2. PROSES E-COMMERCE
Dalam proses e-commerce, perusahaan membutuhkan beberapa komponen utama agar operasi dan manajemen aktivitas e-commerce nya berjalan dengan baik. Komponen-komponen pokok yang memiliki peran penting dalam proses e-commerce berikut :
1. Pengendalian Akses dan Keamanan
Situs e-commerce harus memberikan rasa percaya dan akses yang aman untuk berbagai pihak dalam transaksi e-commerce, misalkan dengan adanya kata kunci (password), kunci enskipsi, sertifikasi, atau tanda tangan digital. Kemudian ada otorisasi akses yang hanya ke bagian tertentu saja sehingga hanya para pelanggan yang terdaftar saja yang dapat mengakses informasi dan aplikasi yang ada. Pengendalian akses dan keamanan ini perlu dilakukan untuk melindungi sumber daya situs e-commerce dari berbagai ancaman seperti hacker, pencurian password atau menghindari kegagalan sistem.
2. Membuat Profil dan Personalisasi
Proses pembuatan profil dan personilasasi menggunakan alat pembuat profile seperti pendaftaran, file cookie, software penelusur perilaku dalam situs web dan respon pemakai. Profil ini digunakan untuk mengenali kita sebagai pemakai individual, memberikan tampilan personalisasi, saran atas produk dan iklan web. Tujuan proses pembuatan profile ini untuk tujuan manajemen rekening, pembayaran, mengumpulkan data mengenai manajemen hubungan pelanggan, perencanaan pemasaran, dan untuk manajemen situs web itu sendiri.
3. Manajemen Pencarian
Software e-commerce harus meliputi komponen mesin pencari situs web untuk dapat membantu para pelanggannya dalam menemukan produk dan jasa tertentu yang mereka inginkan untuk dievaluasi atau dibeli.
4. Manajemen Isi dan Katalog
Isi e-commerce sebagian besar berbentuk katalog multimedia yang memuat informasi produk sehingga membuat dan mengelola catalog merupakan rangkaian utama dari manajemn isi. Software manajemen isi tersebut bekerja dengan alat pembuat profile yang sudah disebutkan sebelumnya. Software manajemen isi akan membantu perusahaan e-commerce untuk mengembangkan, menghasilkan, mengirimkan, memperbaharui, dan menyimpan data teks serta informasi multimedia di situs web e-commerce. Selanjutnya manajemen isi dan katalog dapat diperluas untuk memasukkan proses konfigurasi produk yang akan mendukung layanan mandiri berbasis web dan penyesuaian massal atas berbagai produk perusahaan.
5. Manajemen Arus Kerja
Sistem arus kerja e-business digunakan untuk membantu para karyawan secara elektronik bekerja sama untuk menyelesaikan tugas pekerjaan dengan menggunakan mesin software arus kerja (workflow software engine). Sistem ini memastikan bahwa transaksi, keputusan, dan aktivitas kerja yang tepat dilakukan, serta data dan dokumen yang benar telah dikirimkan ke para karyawan, pelanggan, pemasok, dan pihak stakeholder.
6. Pemberitahuan Kegiatan
Proses pemberitahuan kegiatan (event notification) memainkan peranan penting dalam sistem e-commerce karena sistem ini digunakan untuk memonitor semua proses e-commerce dan mencatat semua kegiatan yang relevan, termasuk perubahan mendadak atau ketika dalam masalah. Sistem ini akan memberitahukan kepada para pelanggan, pemasok, dan pegawai serta stakeholder mengenai semua kegiatan transaksi yang berkaitan dengan status mereka dengan melalui pesan elektronik seperti e-mail, newsgroup, penyeranta (pager), atau fax.
7. Kerjasama dan Perdagangan
Tujuan utama e-commerce adalah untuk mendukung kesepakatan kerjasama dan layanan perdagangan yang dibutuhkan oleh para pelanggan, pemasok, dan stakeholder lainnya. Seperti halnya dalam e-business, sistem e-commerce juga fokus menumbuhkan komunitas berkepentingan online untuk meningkatkan layanan pelanggan dan membangun loyalitasnya.
8. Proses Pembayaran Elektronik
Pembayaran sebagai proses nyata dan penting dalam transaksi e-commerce. Sekarang ini sebagian besar sistem e-commerce yang terlibat dalam web dan bisnis B2C menggunakan proses pembayarannya dengan kartu kredit.
3. E-COMMERCE SUCCESS FACTORS
Dalam menciptakan perusahaan e-commerce yang sukses dan berkelanjutan maka secara umum tentunya perusahaan harus mencari cara untuk dapat membangun kepuasan, loyalitas, dan hubungan baik dengan para pelanggan secara online agar mereka tetap kembali ke toko web perusahaan kita. Kunci keberhasilan perusahaan ritel elektronik adalah ketika perusahaan mampu mengoptimalkan beberapa faktor sukses e-commerce seperti berikut :
1.Selection and Value
Faktor Pilihan dan nilai meliputi : pilihan produk yang menarik, harga yang bersaing, jaminan kepuasan, dan dukungan pelanggan setelah penjualan.
2. Performance and Service
Faktor Kinerja dan pelayanan meliputi : navigasi, proses belanja, dan pembelian serta konfirmasi pengiriman yang cepat dan mudah.
3. Look and Feel
Faktor Tampilan dan rasa yakni meliputi : pajangan web, situs web, area belanja, produk multimedia, halaman katalog dan fitur belanja yang menarik.
4. Advertising and Incentives
Faktor Iklan dan insentif meliputi : web dan promosi e-mail bersasaran serta penawaran khusus, termasuk iklan di berbagai situs afiliasi.
5. Personal Attention
Faktor perhatian personal meliputi : halaman web personal, saran produk yang dipersonalisasi, iklan web dan pemberitahuan e-mail, serta dukungan interaktif untuk semua pelanggan.
6. Community Relationship
Faktor hubungan dengan komunitas meliputi komunitas virtual para pelanggan, pemasok, perwakilan perusahaan, dan lain-lainnya melalui newsgroup, ruang bincang, serta berbagai hubungan ke situs-situs terkait.
7. Security and Reliability
Faktor keamanan dan keandalan meliputi keamanan informasi pelanggan dan transaksi di situs web, informasi produk yang dapat dipercaya, serta pemenuhan pesanan yang dapat diandalkan.
4. BUSINESS-TO-BUSINESS E-COMMERCE
Secara umum aktifitas e-commerce mencakup berbagai aktivitas mulai dari direct marketing, search jobs, online banking, banking, e-government, e-purchasing, B2B exchanges, ccommerce, m-commerce, auctions, travel, online publishing dan consumer services. Dalam aplikasinya e-commerce dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu business to business (B2B) dan business to customer (B2C). Secara umum aktivitas dari B2B ini seperti trading partners dan pertukaran data yang dilakukan secara rutin antara pebisnis. Sedangkan aktivitas B2C itu seperti perusahaan retail yakni perusahaan mempromosikan produk dan jasa, melayani
customernya melalui katalog elektronik di web sampai pada transaksi penjualan yang semuanya dilakukan secara online, dan dalam perkembangannya B2B lebih pesat dibandingkan B2C. Business to Business E-Commerce umumnya menggunakan mekanisme EDI (Electronic Data Interchange), tetapi karena begitu banyaknya standarisasi yang ada, dalam pelaksanaannya menyulitkan antara pebisnis untuk saling berinteraksi sehingga berkembanglah dewasa ini yang dinamakan Extensible Markup Language (XML) yang
dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C), dimana dalam XML ini tersimpan struktur dan jenis elemen data di dalam dokumennya yang berbentuk tags seperti HTML sehingga sangat efektif digunakan dalam sistem yang berbeda. Sehingga yang sebelumnya EDI menggunakan jaringan yang sering disebut VAN (Value Added Network) dengan populernya jaringan internet mulai dikenal sebuah sistem yang disebut EDI over internet dan sistem lainnya yang sedang berkembang seperti electronic/internet procurement dan ERP (Enterprise Resource Planning).
5. BUSINESS-TO-CUSTOMER E-COMMERCE
Sedangkan aktivitas Business to Cunsumer e-commerce (B2C) itu seperti perusahaan retail yakni perusahaan mempromosikan produk dan jasa, melayani customer melalui katalog elektronik di web sampai pada terjadinya transaksi penjualan yang semuanya dilakukan secara online menggunakan media internet.
Pada umumnya Business to Customer e-commerce (B2C) menggunakan internet dengan berbagai model pendekatan seperti electronic shopping mall atau dengan konsep portal. Keduanya menggunakan website sebagai basisnya. Aktifitas electronic shopping mall lebih kepada mempromosikan produk dan service yang ada dengan dukungan online catalog dan sebagainya. Sedangkan dalam konsep portal lebih ke pelayanan yang lebih kompleks dimana electronic shopping mall juga termasuk didalamnya, dengan tetap berbasis pada website, di dalam portal ini juga terdapat pelayanan lainnya seperti e-mail, online database, news dan sebagainya.
6. E-COMMERCE MARKETPLACES
Implementasi e-commerce menuntut pergeseran paradigma secara fundamental, dari yang semula marketplace yang menekankan interaksi secara fisik antara penjual dan pembeli menjadi marketspace yang mengandalkan transaksi elektronik. Dalam traditional marketplace, lalu lintas informasi, produk/jasa, dan pembayaran bersifat fisik (location based). Dengan kata lain, model bisnis yang berlaku adalah geographic business model. Sebaliknya, dalam dunia virtual marketplace, aliran informasi produk, proses komunikasi
antara produsen dan konsumen, distribusi barang/jasa dan transaksi berlangsung dalam dunia maya/virtual.
Lima tipe utama dalam aplikasi e-commerce marketplace yang digunakan pada bisnis saat ini yaitu :
1. One to Many : Sell-Side Marketplaces
Tipe ini disebut Pasar penjual (sell-side), dimana dalam pasar ini dikendalikan oleh satu supplier utama, yang menyajikan produk katalog dan daftar harga seperti : perusahaan Cisco.com and Dell.com.
2. Many to One : Buy-Side Marketplace
Tipe ini disebut Pasar pembeli (buy-side), dimana para supplier tertarik untuk datang ke banyak orang yang berkumpul untuk melakukan pertukaran, kemudian mereka menawarkan bisnisnya pada seorang pembeli utama, seperti perusahaan GE atau AT&T.
3. Some to Many : Distribution Marketplace
Tipe ini disebut Pasar distribusi, dimana sekelompok supplier utama mengkombinasikan produk katalog mereka untuk menarik perhatian para pembeli yang lebih banyak, seperti perusahaan verticalNet dan Work.com.
4. Many to Some : Procurement Marketplace
Tipe ini disebut Pasar pengadaan, dimana sekelompok pembeli utama mengkombinasikan katalog/daftar pembelian mereka untuk lebih menarik para supplier agar lebih berkompetisi dan bisa mendapatkan harga yang lebih rendah, seperti perusahaan Auto industri Convisint dan industri energi Pantellos.
5. Many to Many : Pasar Lelang
Tipe ini disebut juga Pasar lelang, dimana terdapat banyak pembeli dan banyak juga penjual yang dapat menciptakan berbagai “para pembeli” atau “para penjual” yang dengan dinamis akan mengoptimalkan terciptanya harga, seperti perusahaan eBay dan FreeMarkets.
7. WEB BASED MODEL UNTUK E-COMMERCE
1. Model Brokerage
Broker adalah sebagai pembuat pasar: mereka akan membawa pembeli dan penjual secara bersama-sama dan memfasilitasi transaksi pembelia/penjualan. Broker memainkan frekuensi dalam kaitan pasar di dalam B2B, B2C ataupun C2C. Pada umumnya broker akan mengenakan tariff fee ataupun komisi untuk setiap transaksi dimana ketentuan penentuan komisi tersebut akan bervariasi.
2. Model Periklanan
Model jaringan periklanan merupakan perluasan dari model media penyiaran tradisional. Penyiar, dalam hal ini, jaringan website, menyediakan content (isi), biasanya gratis dan pelayanan baik email, chat maupun forum diskusi yang dikombinasikan dengan pesan-pesan periklanan dalam ikon-ikon di dalam media website tersebut. Ikon-ikon tersebut bisa jadi merupakan sumber pendapatan bagi penyiar. Penyiar bisa jadi merupakan pembuat content (isi) termasuk proses distribusinya. Model periklanan akan efektif berjalan ketika jumlah yang melihat tampilan website dalam jumlah besar. Portal, adalah titik permulaan (awal)
kepada jaringan (web), biasanya merupakan mesin pencarian yang termasuk dalam diversifikasi isi dan pelayanan. Volume yang tinggi membuat proses periklanan menciptakan keuntungan dan mengizinkan untuk diversifikasi pelayanan lebih jauh.
3. Model Infomediary
Meliputi data tentang pelanggan dan kebiasaannya dalam konsumsi yang bernilai, terutama ketika informasi yang ada dianalisis dan dipakai untuk kampanye pemasaran. Pengumpulan data secara independen tentang produser dan produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh pelanggan ketika mempertimbangkan pembelian. Beberapa fungsi perusahaan sebagai infomediary (media informasi) membantu pembeli dan atau penjual memahami pasar. Infomediary meliputi :
1. Jaringan Periklanan
2. Pelayanan Pengukuran Audien
3. Marketing Insentive
4. Metamediary, memfasilitasi transaksi antara pembeli dan penjual dengan menyediakan informasi secara komprehensif dan pelayanan menyeluruh, tetapi tidak melibatkan pertukaran barang dan jasa di antara pihak-pihak yang terkait.
4. Model Vendor (Merchant)
Penjual dan retailer dari barang dan jasa. Penjualan mungkin dibuat berdasarkan daftar harga atau pelalui proses lelang. Model vendor meliputi :
1. Virtual Merchant
2. Katalog Merchant
3. Click dan Mortar
4. Bit Vendor
5. Model Manufacturer (Direct)
Manufactur atau „Model Langsung” diprediksikan bahwa kekuatan dari jaringan Web memberikan pabrik-pabrik (manufacturers) untuk menjangkau pembeli secara langsung dan menawarkan jalur distribusi. Model Manufacturer ini dapat didasarkan kepada efisiensi, meningkatkan pelayanan pelanggan dan pemahaman
lebih baik dari pelanggan.
6. Model Afiliasi
Kebalikan dari model portal, yang mempunyai objektif untuk mendapatkan volume yang tinggi, Model Afiliasi ini menyediakan kesempatan dalam hal pembelian dimana pelanggan dapat melakukan browsing. Model ini menawarkan insentif keuangan untuk melakukkan afiliasi dengan situs partner.
7. Model Komunitas
Model komunitas ini didasarkan pada loyalitas pelanggan/pemakai. Pemakai mempunyai investasi yang tinggi dalam hal waktu dan emosi. Pendapatan dapat didasarkan dari penjualan barang dan jasa atau kontribusi secara sukarela. Model ini meliputi :
1. Model Sumber terbuka
2. Model Penyiaran Publik
3. Jaringan Pengetahuan
8. Model Subscripsi
Pengguna dikenakan charge secara periodic, baik harian, bulanan maupun tahunan untuk mendapatkan pelayanan. Hal ini tidak biasa dilakukan untuk situs kombinasi antara gratis dan fee keanggotaan. Fee dikenakan dalam hal contents service, person-to-person pelayanan jaringan, service kepercayaan dan provider internet.
9. Model Utility
Utility model adalah model yang menerapkan tariff kepada pengguna. Model ini sering digunakan oleh layanan-layanan penting, seperti listrik, air dan layanan telepon. ISP pada sebagian belahan dunia dapat beroperasi berdasarkan utility model. Model ini menerapkan tariff atas koneksi berdasarkan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar